Pergumulan sang
DKI 1 untuk Indonesia Jaya
Oleh
Sandra Insana Sari
Putih,
berapi-api namun berwibawa, dengan mata berciri khas asia yang dihalangi
kacamata menggambarkan ketokohannya.
Dengan kemeja batik bercorak warna coklat dan merah, yang dilengkapi
dengan celana bahan hitam serta sepatu kulit hitamnya, pria kelahiran Sumatra
ini duduk santai berbicara dengan nada
tegas dan suara bassnya.
Gubernur
DKI Jakarta Bazuki Tjahaja Purnama. Nama yang sudah sangat tidak asing lagi
sebagai tokoh yang menduduki urutan pertama di DKI Jakarta. Duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik
di dalam suatu ruangan, cukup serius namun tetap santai, gubernur yang biasa
dipanggil Ahok ini terihat tengah
berbincang-bincang
Satu
Jam bersama Bazuki Tjahaja Purnama, acara yang di bawakan oleh Charyl Tanzil
ini digelar di gedung Balaikota, Jakarta. Pembicaraan mengenai perjuangan pergumulan Ahok dari pergulatannya
dalam merubah sistem menjadi lebih baik menjadi latar wawancara ini.
“Dulu
saya ga suka politik, anti KMPI, Pramuka ga pernah ikut, Osis dan Senat mahasiswa
pun tidak pernah ikut, pikirannya hanya sekolah supaya dapet gelar cepat. Tapi saya
melihat orang miskin terlalu banyak, kita sempat dapat 1 miliyar kita
sumbangkan Rp500.000 abis 2000 orang. karena UMPnya dulu Rp500.000.”
Ujar Ahok meceritakan awal pemikiran besarnya.
Mula-mula
Ahok hanya berita-cita memilih bupati yang bagus agar dapat memberikan jaminan
pendidikan dan kesehatan pada masyarakat sekitar. Namun keinginannya ini
membawanya lebih tinggi, ia tidak hanya menjadi pemilih tetapi menjadi terpilih
dari pemilu langsung dan menjadi Bupati dari Bangka Belitung.
“Dari
menjadi bupati saya berfikir untuk memberikan jaminan untuk masyarkat, tapi
ternyata harus dari provinsi. Saya ajukan kepada gubernur, namun ditolak. Lalu saya
ingin jadi gubernur melawan dia. jadilah cita-cita saya menjadi gubernur” jelas
ahok dalam perjuangannya menjadi
gubernur.
Sebagai
bupati yang terpilih dari pemilihan langsung, Ahok pun salah satu tokoh yang tidak setuju dengan RUU Pilkada dengan
kembalinya lagi makanisme legislatif. Suara rakyat sangatlah penting dan berarti
dalam negara yang menganut sistem demokrasi ini. Pemerintahan haruslah oleh
rakyat, untuk rakyat, dan dari rakyat.
Ahok
pun menempati posisi wakil gubernur pada pemilihan Pilgub lalu. Kemudian
kepergian rekannya menjadi Presiden otomatis menggesernya ke posisi pertama.
Ahok memiliki kurang lebih 3 tahun lagi untuk merubah sistem pemerintahan
Jakara menjadi lebih baik dan melanjutkan
perjuangan sebelumnya bersama Joko Widodo.
Gubernur
yang telah 3 kali berganti partai mualai dari PDI-P, Golkar dan Gerindra ini
sangat menjunjung tinggi kejujuran, pandangan orang mengenainya tidak lah
penting. Tetapi bagaimana sistem di
Indonesia dapat berjalan dengan baik itulah yang terpenting.
“Jika
2017 ada di pilihan rakyat saya akan ikut, tapi jika tidak ada saya tidak akan
ikut. Saya akan mengebambangkan sistem transparansi. Stigma dimasyarakat
sekarang adalah semua pemimpin sama saja pasti korupsi” Kata Ahok menjawab
pertanyaan Charyl Tanzil saat ditanyai rencana kedepannya
Korupsi
adalah kata yang kotor baginya. Kesigapannya dapat dilihat dari kinerjanya
yaitu menerima laporan langsung dari masyarkat apabila terdapat permasalah
mengenai urasan pemerintahan yang berbau korupsi. Transparan kepada masyarakat
adalah hal yang perlu di tingkatkan di Indonesia.
Tindakan
tegas akan diambilnya dalam hal pencarian PNS. Hukum untuk kader-kader yang tersangkut
kasus korupsi pun ia akan jalankan. Ia juga sangat berharap banyak terhadap
Jokowi agar dapat menyiapkan 10 tahun ke depannya. Karena 2025 sudah masuk ke
era Demografi, dan puncaknya tahun 2014.
“Jika
Jokowi masih tidak beres dan tidak becus, tidak berani memecat kader yang
melakukan tindak korupsi. Saya akan melawannya, dengan mencalonkan diri sebagai
Presiden” ujar Ahok.
Perjuangan
Ahok dalam pergumulannya merubah sistem Indonesia mejadi lebih baik dapat
diberikan apresiasi tinggi. Keinginannya untuk melihat kemakmuran di daerahnya
telah membawa ia setinggi birunya langit Jakarta. Keberanian, ketegasan, dan
nilai yang ditanamkan dalam dirinya akan terus terpicu demi kejayaan dan
kemakmurah sang merah putih.


