Jumat, 10 Oktober 2014

Feature Profile



Pergumulan sang DKI 1 untuk Indonesia Jaya
Oleh Sandra Insana Sari

Putih, berapi-api namun berwibawa, dengan mata berciri khas asia yang dihalangi kacamata menggambarkan ketokohannya.  Dengan kemeja batik bercorak warna coklat dan merah, yang dilengkapi dengan celana bahan hitam serta sepatu kulit hitamnya, pria kelahiran Sumatra ini duduk santai berbicara dengan nada  tegas dan suara bassnya.
Gubernur DKI Jakarta Bazuki Tjahaja Purnama. Nama yang sudah sangat tidak asing lagi sebagai tokoh yang menduduki urutan pertama di DKI Jakarta.  Duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik di dalam suatu ruangan, cukup serius namun tetap santai, gubernur yang biasa dipanggil Ahok  ini terihat tengah berbincang-bincang
Satu Jam bersama Bazuki Tjahaja Purnama, acara yang di bawakan oleh Charyl Tanzil ini digelar di gedung Balaikota, Jakarta. Pembicaraan mengenai  perjuangan pergumulan Ahok dari pergulatannya dalam merubah sistem menjadi lebih baik menjadi latar wawancara ini.
“Dulu saya ga suka politik, anti KMPI, Pramuka ga pernah ikut, Osis dan Senat mahasiswa pun tidak pernah ikut, pikirannya hanya sekolah supaya dapet gelar cepat. Tapi saya melihat orang miskin terlalu banyak, kita sempat dapat 1 miliyar kita sumbangkan Rp500.000 abis 2000 orang. karena UMPnya dulu Rp500.000.” Ujar Ahok meceritakan awal pemikiran besarnya.
Mula-mula Ahok hanya berita-cita memilih bupati yang bagus agar dapat memberikan jaminan pendidikan dan kesehatan pada masyarakat sekitar. Namun keinginannya ini membawanya lebih tinggi, ia tidak hanya menjadi pemilih tetapi menjadi terpilih dari pemilu langsung dan menjadi Bupati dari Bangka Belitung.
“Dari menjadi bupati saya berfikir untuk memberikan jaminan untuk masyarkat, tapi ternyata harus dari provinsi. Saya ajukan kepada gubernur, namun ditolak. Lalu saya ingin jadi gubernur melawan dia. jadilah cita-cita saya menjadi gubernur” jelas ahok dalam  perjuangannya menjadi gubernur.
Sebagai bupati yang terpilih dari pemilihan langsung, Ahok pun salah satu tokoh  yang tidak setuju dengan RUU Pilkada dengan kembalinya lagi makanisme legislatif. Suara rakyat sangatlah penting dan berarti dalam negara yang menganut sistem demokrasi ini. Pemerintahan haruslah oleh rakyat, untuk rakyat, dan dari rakyat.
Ahok pun menempati posisi wakil gubernur pada pemilihan Pilgub lalu. Kemudian kepergian rekannya menjadi Presiden otomatis menggesernya ke posisi pertama. Ahok memiliki kurang lebih 3 tahun lagi untuk merubah sistem pemerintahan Jakara  menjadi lebih baik dan melanjutkan perjuangan sebelumnya bersama Joko Widodo.
Gubernur yang telah 3 kali berganti partai mualai dari PDI-P, Golkar dan Gerindra ini sangat menjunjung tinggi kejujuran, pandangan orang mengenainya tidak lah penting. Tetapi bagaimana sistem di  Indonesia dapat berjalan dengan baik itulah yang terpenting.
“Jika 2017 ada di pilihan rakyat saya akan ikut, tapi jika tidak ada saya tidak akan ikut. Saya akan mengebambangkan sistem transparansi. Stigma dimasyarakat sekarang adalah semua pemimpin sama saja pasti korupsi” Kata Ahok menjawab pertanyaan Charyl Tanzil saat ditanyai rencana kedepannya
Korupsi adalah kata yang kotor baginya. Kesigapannya dapat dilihat dari kinerjanya yaitu menerima laporan langsung dari masyarkat apabila terdapat permasalah mengenai urasan pemerintahan yang berbau korupsi. Transparan kepada masyarakat adalah hal yang perlu di tingkatkan di Indonesia.
Tindakan tegas akan diambilnya dalam hal pencarian PNS. Hukum untuk kader-kader yang tersangkut kasus korupsi pun ia akan jalankan. Ia juga sangat berharap banyak terhadap Jokowi agar dapat menyiapkan 10 tahun ke depannya. Karena 2025 sudah masuk ke era Demografi, dan puncaknya tahun 2014.
“Jika Jokowi masih tidak beres dan tidak becus, tidak berani memecat kader yang melakukan tindak korupsi. Saya akan melawannya, dengan mencalonkan diri sebagai Presiden” ujar Ahok.
Perjuangan Ahok dalam pergumulannya merubah sistem Indonesia mejadi lebih baik dapat diberikan apresiasi tinggi. Keinginannya untuk melihat kemakmuran di daerahnya telah membawa ia setinggi birunya langit Jakarta. Keberanian, ketegasan, dan nilai yang ditanamkan dalam dirinya akan terus terpicu demi kejayaan dan kemakmurah sang merah putih.